Monday, December 8, 2008

Buya Hamka Dan KH. Abdullah Syafi’i

Kisah berikut ini akan memberikan gambaran betapa pentingnya sebuah wawasan ilmu yang mendalam akan mampu mempererat tali silaturahmi, memperjelas arti persahabatan serta mampu menjaga ukhuwah islamiyah.

Kisah tersebut adalah mengenai persahabatan antara kedua tokoh Islam Indonesia dengan latar belakang organisasi dan disiplin ilmu yang berbeda, Buya Hamka dan KH. Abdullah Syafi’i.

Boleh dibilang Buya Hamka adalah seorang tokoh Muhammadiyah yang anti qunut dan biasanya ketika shalat jum’at adzan nya hanya satu kali. Namun demikian beliau bersahabat baik dengan tokoh ulama betawi, KH. Abdullah Syafi'i, tokoh ulama yang menyatakan bahwa qunut shalat shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah dengan adzan dua kali ketika shalat jum’at .

Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi'i mengunjungi sahabatnya Buya Hamka di masjid Al-Azhar Kebayoran Jakarta Selatan. masjid dimana menjadi tempat Buya Hamka melakukan aktifitas sehari-hari, Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena menghormati shahabatnya, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi'i yang naik menjadi khatib Jumat.

Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya hanya satu kali. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat shahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambah jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Begitulah sikap kedua tokoh ulama besar negeri ini. Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal. Dan siapa tidak kenal KH Abdullah Syafi'i, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafi'iyah, yang umumnya kiyai betawi hari ini adalah murid-murid beliau.

Bahkan satu lagi menurut penuturan putra Buya Hamka yakni Rusydi Hamka, ayahnya itu ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar kala itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat.

Inilah tipologi ulama sejati yang ilmunya mendalam dan wawasannya luas. Tidak pernah meributkan urusan khilafiyah, sebab pada hakikatnya urusan khilafiyah lahir karena memang proses yang alami, di mana dalil dan nash yang ada menggiring kita ke arah sana. Bukan sekedar asal beda dan cari-cari perhatian orang. Karena itu harus disikapi dengan luas dan luwes.

Bagi kamu yang ingin mengetahui biografi singkat kedua tokoh tadi, maka berikut kami berikan ringkasannya :

Buya Hamka

Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo yang akrab dengan panggilan Buya Hamka, lahir 16 Februari 1908, di Ranah Minangkabau, desa kampung Molek, Sungai Batang, di tepian danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Buya Hamka yang bergelar Tuanku Syaikh, gelar pusaka yang diberikan ninik mamak dan Majelis Alim-Ulama negeri Sungai Batang - Tanjung Sani, 12 Rabi’ul Akhir 1386 H/ 31 Juli 1966 M, pernah mendapatkan anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, 1958, Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974, dan gelar Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Buya Hamka adalah seorang ulama yang memiliki ‘izzah, tegas dalam aqidah dan toleran dalam masalah khilafiyah. Beliau sangat peduli terhadap urusan umat Islam, sehingga tidak mengherankan, di dalam dakwahnya, baik berupa tulisan maupun lisan, ceramah, pidato atau khutbah selalu menekankan tentang ukhuwah Islamiyah, menghindari perpacahan dan mengingatkan umat untuk peduli terhadap urusan kaum muslimin.

Buya Hamka berpulang ke Rahmatullah, 24 Juli 1981, telah meninggalkan warisan dan pelajaran yang sangat berharga untuk ditindak lanjuti oleh genarasi Islam, yaitu istiqamah dalam berjuang, menjaga persatuan umat dan peduli terhadap urusan kaum Muslimin

Motto: Biarkanlah saya menyebut apa yang terasa; Kemudian tuan bebas memberi saya nama dengan apa yang tuan sukai; Saya adalah pemberi maaf, dan perangai saya adalah mudah, tidak sulit.Cuma rasa hati sanubari itu tidaklah dapat saya menjualnya; Katakanlah kepadaku, demi Tuhan. Adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?

KH Abdullah Syafi'ie

Almarhum KH Abdullah Syafi'ie lahir di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan pada 16 Sya'ban 1329 H/10 Agustus 1910 hari Sabtu. Semasa hidupnya almarhum KH Abdullah Syafi'ie populer dengan sebutan “Macan Betawi”.

Sejak kecil almarhum sudah diarahkan untuk belajar ilmu agama. Sambil menuntut ilmu, ia pun mengajar. Ketika berumur 23 tahun beliau mulai membangun Masjid Al Barakah di Kampung Bali Matraman. Di situlah Almarhum lebih menekuni pembinaan masyarakat-umat.

Selanjutnya beliau membangun sejumlah pesantren dan madrasah. Beliau membangun AULA AS-SYAFI'IYAH, membangun Akademi Pendidikan Islam As-Syafi'iyah (AKPI As-Syafi'iyah), mendirikan Stasiun Radio As-Syafi'iyah, membangun pesantren putra dan pesantren putri di Jatiwaringin, membangun pesantren khusus untuk Yataama dan Masaakin, mengembangkan sarana untuk pendidikan dan pesantren di sekitar Jakarta seperti Cilangkap-Pasar Rebo, di Payangan-Bekasi, Kp. Jakasampurna-Bekasi dan menyiapkan lokasi untuk kampus Universitas Islam As-Syafi'iyah di Jatiwaringin.

Jiwa dan semangatnya adalah membangun umat untuk menghidupkan syi'arnya agama Islam. Mendirikan masjid-masjid, musholla dan madrasah serta pesantren-pesantren. Menggalakkan umat untuk beramal jariah, infak dan shodaqoh serta berwakaf.

Pada Selasa 3 September 1985 dinihari jam 00.30 KH Abdullah Syafi'ie berpulang ke rahmatullah saat menuju rumah sakit Islam. Almarhum dishalatkan di masjid Al Barkah Bali Matraman oleh puluhan ribu umat Islam secara bergelombang dipimpin oleh para Alim Ulama. Turut serta tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah. Dimakamkan pada selasa tgl. 18 Dzulhijjah 1405 H./ 3 September 1985 di Komplek Pesantren Putra As-Syafi'iyah Jatiwaringin Pondokgede, diantar oleh ratusan ribu umat Islam.

Tuan Guru Bajang KH Zainul Majdi, yang juga mantu dari KH Abdul Rasyid (Putra KH. Abdullah Syafi’i) mengatakan, meski dirinya belum pernah bertemu dengan KH Abdullah Syafi'ie tapi ia yakin bahwa KH Abdullah Syafi'ie merupakan orang yang mulia. “Kenapa saya yakin beliau orang mulia? Karena banyak sekali orang yang suka sama beliau,” ujarnya. Menurutnya, kalau ulama sampai ratusan tahun bahkan ribuan tahun masih dikenang umat dengan kebaikan, berarti ketika ia hidup menanam kebaikan pada umat.

Menag Maftuh Basyuni, mengaku cukup mengenal baik KH Abdullah Syafi'ie, yakni di tahun 1960 an ketika baru belajar di Universitas Madinah. “Saya melihat beliau itu seorang ulama yang alim dan istiqamah dalam memegang kebenaran,” ujarnya. KH Abdullah Syafi'ie, masih kata ia, termasuk orang begitu gigih memperjuangkan kebenaran, bijak dan arif ketika melihat suatu permasalahan. Namun demikin tetap tegas dalam memegang prinsip. Meskipun memiliki ilmu yang tinggi tapi beliau tetap rendah hati, tak pernah sombong, congkak atau pun egois. “Orang seperti ini sekarang langka,”katanya.

Sumber diolah dari eramuslim.com dan Suara-islam.com
www.alifiarahmany.blogspot.com

Artikel Terkait



5 comments:

lusia said...

Hi Friend,Very Nice Post and blog,i like your blog.AND VISIT TO MY BLOG AND DROP ME A COMMENT TOO.THANKS
http://www.googleadsensesystem.blogspot.com/
http://www.indianstamilmasalas.blogspot.com/
http://www.indianmasalamullu.blogspot

Junaidi said...

Buya Hamka, salah seorang tokoh favoritku, aku baca dan koleksi buku-bukunya, terimakasih artikelnya

Mata Air Lereng Semeru said...

Tulisan yang menarik,semoga tidak berhenti menulis tentang kisah-kisah teladan dan inspiratif

Lyla said...

wah.. mbak lengkap banget cerita Buya Hamka :)

belly wijaya said...

tulisan bagus! manfaat sekali. Sy sendiri hampir lupa kita pernah punya tokoh bernama Buya Hamka.

Post a Comment