Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Monday, May 18, 2009

Cinta Hitam Putih


Assalamualaikum, Mas

Waalaikum salam, eh Mas Fauzi…gimana kabarnya nih?

Alhamdulillah baik, nanti siang ada acara nda?

Emmm keliatannya ngga ada mas, emang kenapa?

Gini...mas, tanggal 9 April kan tinggal dua minggu lagi, nah saya dapet informasi dari temen saya kalo Mas Rachmat ini kader juga, jadi saya ada rencana untuk ngumpulin seluruh kader di RW kita, supaya saling kenal dan bisa koordinasi satu sama lainnya.

Insya Allah mas, saya setuju, soalnya selama satu tahun ini terus terang saya ngga tau nih kader di sini siapa-siapa aja sih, mm dimana acaranya, mas?

Dirumah saya, ba’da zuhur

Maaf mas Fauzi, alamatnya dimana ya?

Depan rumah pak RW….tau kan?

Oh iya....

Ya udah, sampai ketemu nanti ya, Assalamualaikum?

Waalaikum salam....

Mas Fauzi meninggalkan diriku, sesaat setelah menjabat tanganku, pria yang baru saja kukenal sejak setahun ini memang baru berbicara banyak denganku tadi, biasanya memang hanya sekedar menyapa salam saja.
Kurang dari 24 bulan aku baru tinggal di kota Bogor ini. Aku, kakak, keponakan dan kedua orangtuaku berasal dari Sukabumi, kami pindah dalam rangka mengikuti Ayahku yang ditugaskan di kota hujan ini, Aku sendiri sudah lama pulang pergi sukabumi – bogor, sebab aku bekerja di salah satu perusahaan teknologi dan internet di Bogor.

Sejak masih di Sukabumi memang aku sudah aktif dalam kepartaian, tepatnya sejak masih duduk dibangku kuliah.

Saat masih di Sukabumi, aku sempat bertunangan dengan seorang gadis tetanggaku sendiri, meskipun aku sangat mendambakan istri yang punya aktifitas ke partaian yang sama denganku, namun tampaknya keadaan berbicara lain, saat itu aku yang berusia hampir kepala tiga, dengan segera mengiyakan sesaat setelah orang tuaku menjodohkan aku dengan tetanggaku itu.

Cantik, sopan, smart dan solehah begitulah kira-kira gambaran calon istriku, meskipun ia dari keluarga muslim tradisional dan aku sempat khawatir akan perbedaan ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, saat ini aku mulai mencintainya.

Kami sepakat akan melangsungkan pernikahan pada bulan Juli nanti, tepatnya seminggu setelah pilpres nanti,

Sebelum bertunangan, kami memang sudah saling mengenal satu sama lain, namun karena kesibukan serta lokasi aktifitas menyebabkan kami tidak pernah mengenal lebih dalam, saat ini ia sedang meneruskan S2 nya di Malaysia, sementara aku sendiri pulang pergi Sukabumi – Bogor.

----------------

”Assalamualaikum, ”

”Waalaikumsalam, eh Mas Rachmat...ayo,,ayo masuk.”

Ternyata aku bukanlah orang pertama yang datang, didalam sudah ada lima orang termasuk Mas Fauzi didalamnya, mereka dengan ramah memperkenalkan dirinya satu persatu, dimulai dari Pak Toto, bapak dengan lima orang anak ini aku perkirakan berusia 40 tahunan, ia paling senior diantara kami, selanjutnya disusul Mas Hermanto, pria berjenggot tipis asal cilacap ini mengaku sebagai orang baru juga di RW sini.

Setelah para pria memperkenalkan diri, kini giliran wanitanya, meskipun tempat duduk dua orang wanita ini hanya berjarak dua meter, namun aku tidak bisa melihat wajah mereka, sebab tempat duduk kami dibatasi oleh white board.

Diantara kedua wanita tadi, salah satunya adalah istri dari Mas Fauzi, sedangkan yang satunya lagi Mbak Ratih namanya, ia menceritakan sedikit aktifitasnya sehari-hari, ia seorang guru SMP bidang matematika dan mengajar TPA juga dilingkungan komplek ini,

Tanpa sadar aku teringat akan cerita keponakanku, ia mengatakan bahwa saat ini ia sedang senang mengaji dengan guru TPA-nya yang baru, namanya Bu Ratih, ia baik dan sering mengantarkan keponakanku itu sampai ke rumah,

”jangan-jangan Mba Ratih ini adalah Bu Ratih yang diceritakan Dina keponakanku”
Pikirku dalam hati

-------

Setelah semua agenda pertemuan dilalui, satu persatu mereka meninggalkan diriku, aku memilih pulang belakangan, selain ingin membantu membereskan rumah Mas Fauzi, aku juga harus membereskan notulensi dan kesimpulan rapat tadi, rupanya Mba Ratih juga belum pulang, sebab ia juga sedang sibuk membantu istri Mas Fauzi dan membereskan administrasi biodata kader di RW ini.

”Mas Rahmat tinggalnya di Jalan Jeruk nomor 2, emang Mas Rahmat siapanya Dina?” tanya Mba Ratih dari balik white board

”Saya Om-nya Mba” jawabku singkat,

”Mba Ratih, guru TPA-nya Dina ya?” kini aku yang angkat bicara, sambil melepas seluruh kabel yang tersambung di Laptop

”Iya mas, Kok Mas Rahmat tau, dari Dina ya?”

”Iya, sudah lama Mba tinggal disini?

”Aku lahir disini, Mas Rahmat kerja dimana?”

Tak terasa kami ngobrol panjang lebar, mulai dari kegiatan sehari-hari, sekolah, pekerjaan hingga cerita mengenai keluarga kami masing-masing.

Waktu sudah mendekati ashar, aku berpamitan kepada tuan rumah dan Mba Ratih, tanpa sadar aku melihat wajah Mba Ratih keluar dari balik white board, rupanya ia juga sudah selesai dan mencoba melihat wajahku.

Lima detik aku memandang wajahnya, segera aku coba alihkan pandangan ini, mengucapkan salam dan segera bergegas meninggal kan rumah Mas Fauzi.

Selama perjalanan pulang, aku bergumam dalam hati, rupanya Ratih masih muda, kira-kira dua tahun dibawahku, aku sempat khawatir dengan yang barusan terjadi, kenapa hati ini begitu bergetar saat melihat Ratih tadi, ada rasa sesal dalam diri ini, kenapa baru sekarang mengenal dirinya, wanita yang selama ini aku idam-idamkan, kini hadir setelah aku bertunangan.

Astaghfirullah...kenapa pikiranku jadi ngaco gini ya, lagian jangan geer dulu, emangnya si Ratih ini suka ama aku juga...ya belum tentu juga kali...

Begitulah kata hatiku saling bersahutan.
-------

Setelah makan malam, aku mendengar ada bunyi SMS dari HP ku

”Ass..Maaf Mas Rahmat...ijin nyatet nomor HP-nya ya, agar koordinasi kita lancar (Ratih)” begitu isi SMS,

”wlkmslm..ga papa, ini nomornya Mba Ratih ya?”

”Iya mas”

Aku tidak ingin mencoba menyambung SMS ini, aku takut ke ge-er anku kembali datang,

”repot nanti” pikirku dalam hati

Dalam hati aku kembali mengulang angan-angan tadi siang

”Akhirnya aku menemukan wanita yang selama ini aku idam-idamkan, tapi kenapa ya aku dipertemukan disaat yang tidak tepat, aku sudah mencintai calon istriku, dan aku sudah terlanjur melamarnya”

------
Jam 3 pagi, aku dikejutkan dengan dering HP, dengan nada miscall dan berakhir pada bunyi SMS.

”Ass Para kader sekalian, dimohon agar bisa meluangkan waktu, tahajud dan mendoakan perjuangan kita (Ratih)”

”Makasih Mba udah bangunin aku”

”Sama-sama”

Mudah-mudahan bukan cuman aku yang dibangunin sama Ratih, begitu pikirku saat membaca SMS terakhir tadi

------

Hampir setiap hari aku mendapat kiriman SMS dari Ratih, aku tidak berani menanyakan hal ini kepada kader lain, dan aku juga tidak berani pula mereply SMS dengan kata-kata yang lain selain : ”Terima kasih ya mbak, sudah dibangunin”

Hari pencontrengan tiba, Aku kebagian tugas di TPS 100, lokasinya di lapangan bulutangkis, rupanya rumah Ratih berada disekitar itu, saat zuhur ia mengingatkanku untuk beristirahat, aku dibawakan makan siang olehnya dan ia pun rela menggantikanku saat aku izin shalat zuhur sebentar.

Aku semakin yakin, apa yang aku takutkan akan terjadi, perhatian Ratih selama ini punya arti tersendiri, aku tak dapat membohongi perasaanku juga, aku menikmati perhatiannya, aku membalas perhatiannya, dan hari itu aku benar-benar dibuat jatuh cinta padanya.

Ia tidak tahu bahwa aku sudah bertunangan dan aku juga tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya

Panasnya matahari dan rasa jenuh dari lalulalang para pemilih seolah tidak terasa, selama dia menjenguk dan memberikan perhatiannya kepadaku di TPS ini, tidak ada pernyataan atau kata-kata resmi yang keluar dari mulut kami mengenai cinta ini, namun kami berdua bisa merasakan getaran ini.

Hari yang indah ini hampir selesai, tepat jam 8 malam Ratih menanyakan rekapitulasi suara partai kami untuk dilaporkan ke koordinator wilayah saksi, aku tidak dapat berbohong, aku senang ia datang lagi, meskipun galau hati ini, aku sangat bahagia bisa ngobrol lagi dengannya.

Meskipun dalam pembicaraannya, Ratih seringkali memancing pembicaraan ke arah serius, namun aku pura-pura polos menghindarinya, aku bingung, sebab aku juga ingin berbicara serius mengenai hubungan ini, tapi bagaimana mungkin?.
-------

Malam ini perasaanku sangat kacau, bathinku bertempur hebat, siapa yang aku pilih, ya Allah apakah Ratih sebagai cobaan bagi pernikahanku ataukah ia yang akan menyelamatkanku dari keputusan yang terburu-buru saat itu.

Aku terus berfikir mengenai kedua wanita ini, apakah aku berani membatalkan pernikahan ini, bagaimana perasaannya, keluarganya dan bagaimana reaksi orang tuaku nanti, sementara persiapan pernikahan sudah 50% jalan, undangan sudah dipesan, tenda sudah dibooking dan kepanitiaan di Sukabumi sudah dibentuk.

Disatu sisi, perhatian Ratih yang baru aku terima tadi siang menggoreskan kesan yang dalam dihati ini, aku pun mengingat-ingat kejadian masa laluku,

Sebelum dengan calon istriku, aku pernah beberapa kali gagal dalam mencari pasangan hidup, pernah aku suka dengan wanita tapi ia tidak suka, aku bilang mungkin ini bukan jodohku, lalu ada lagi wanita yang menyukaiku tapi giliran akunya yang tidak suka dengannya, akupun bilang mungkin aku bukan jodohnya.

Dengan keterbatasanku yang bukan ahli bercinta, aku pernah berfikir bahwa yang namanya jodoh adalah jika pria dan wanita saling jatuh cinta, ternyata aku salah, sekarang aku menyukai Ratih dan begitupula dengannya, tapi karena waktu yang tidak tepat, aku jadi bertanya-tanya lagi, siapa jodohku? Ratihkah atau calon istriku?

Tut..tut..tut,
Bunyi SMS membuyarkan lamunanku, segera kubaca
”Aslm Mas Rahmat, di Bogor siapa yang menang, kalau di Malaysia rata-rata Partainya Mas Rahmat loh yang menang, gimana persipan pernikahan kita?”

Degh...jantung ini bedegup kencang, gemetar jari ini menulis SMS balasan

”WlkmSlm, Alhamdulilah disini nomor dua, persiapan nikah udah 50%, kapan kamu pulang”

Masih deg-degan, aku menunggu balasan SMS tadi.

Drrdd...kali ini nada SMS aku ubah jadi getar, agar tidak mengganggu Dina yang sedang belajar

”Asslm, Mas Rahmat lagi ngapain, sejak pertama aku ketemu Mas sampai siang tadi, aku menyimpulkan kalau aku boleh bicara dan kenal lebih dekat dengan Mas Rahmat, bagaimana dengan Mas Rahmat?”

Lebih hebat lagi, jantung ini dibuat bergetar setelah membaca SMS dari Ratih, aku sangat paham dengan maksud kata-kata ”Boleh bicara dan kenal lebih dekat”

--------
Tiga tahun kemudian

”Nanti setelah kondangan, kita mampir ke rumah orang tuaku kan?”

”Ya iyalah Pak, ngga enak udah sebulan kita nggak kesini, yang mana rumahnya?

”Itu dia tendanya,...Eit Dafa, nanti makan es krimnya jangan banyak-banyak ya, masih batuk kan?”

Aku menggandeng istri dan anakku, berjalan menuju tenda pelaminan, disana sudah berdiri sepasang pengantin, aku menyalami satu persatu, dan berjalan melambat ketika tiba didepan mempelai wanita

”Selamat ya Mba Ratih, semoga bahagia selamanya, kenalin ini istri dan anakku”.

Cerita ini adalah fiksi : jika ada kesamaan nama, hanyalah sebuah kebetulan saja http://www.alifiarahmany.blogspot.com/
Baca Selanjutnya...

Sunday, December 14, 2008

Nada Dan Lifi (Seri 2)

Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung

Tok…tok….
“Fi…..udah mau berangkat belon, aku masuk yaa” teriak Haris sambil mengetuk pintu

“udah ka..masuk aja, ngga di kunci kok” balas Lifi dari balik tembok kamarnya

Haris masuk ke kamar lifi dan langsung bertanya ”eh kamu udah nanya ke temenmu?”

Lifi yang sudah siap berangkat ke kantor dengan mengenakan stelan blouse dengan jilbab panjang tampak heran “tanya apa ka?”

“ya….pasti lupa deh…..itu loh, lowongan kerja di tempat temenmu, siapa namanya?

”Astaghfirullah.., sori ka, semalem aku ketemu nada, tapi lupa nanyain, insya allah ntar malem deh!”

”ooo...Ya udah, aku tunggu di depan ya Fi, ntar malem aku smsin deh supaya kamu inget” kata Haris, sambil meninggalkan kamar Lifi.

”iya...ka” jawab Lifi singkat.

Setelah menutup pintu kamar, Lifi bergegas ke teras rumah, disana Haris sudah menunggu sambil memanaskan motor bebek keluaran tahun 2000 yang ia beli sebulan yang lalu.

Setelah berpamitan dengan kedua orang tua, kedua kakak beradik itupun berlalu menuju terminal Depok.

Setibanya di terminal Depok, merekapun berpisah, Lifi meneruskan perjalanannya menuju kantor dengan menumpang Bus jurusan Depok-Kota, sedangkan Haris kembali kerumah dengan motornya tersebut.

”Duh jadi ga enak nih ama ka Haris, mmfh..mudah-mudahan entar malem aku ga lupa bilang ke nada, kasihan ka Haris sebulan ini dia udah nganggur dirumah, Ya Allah mudah-mudahan engkau memberikan ketabahan kepada Ka Haris” kata Lifi dalam hati ketika ia melihat motor Haris melaju semakin jauh dari jendela busnya.

Haris adalah kakak pertama Lifi, usia mereka selisih tiga tahun, sudah satu bulan ini kegiatan Haris setiap pagi mengantar adiknya itu, sepulang dari mengantar adiknya ia lalu mengantar Ibunya ke Pasar, cari lowongan di koran, pergi ke mesjid dan begitu seterusnya

Haris bukanlah tidak mau bekerja lagi, setelah ia resign dari tempatnya bekerja ia sudah mencoba lagi untuk melamar di beberapa perusahaan, namun di usia yang saat ini menginjak kepala tiga tidaklah mudah mendapat pekerjaan lagi, bahkan panggilan interviewpun sampai saat ini belum ada.


Tiga hari yang lalu Lifi mendapat kabar bahwa diperusahaan ditempat Nada bekerja sedang ada lowongan sebagai manajer, hal inipun segera di informasikan kepada Haris.

Betapa semangatnya Haris ketika itu, surat lamaran dan dokumen pelengkapannya sudah dipersiapkan mulai cari CV, copy Ijazah dan lain-lainnya, oleh karena itulah Lifi merasa sangat bersalah ketika ia lupa menanyakan kepada Nada.

Lifi memang sengaja tidak ingin menanyakannya melalui sms atau ponsel saat ini, sebab ia ingin tanya secara rinci mengenai syarat lamaran serta bercerita tentang kondisi prestasi masa lalu kakaknya.

Cerita Haris tiga tahun yang lalu

Jauh kebelakang, tepatnya tiga tahun yang lalu kisah Haris dimulai, berawal ketika Haris menyatakan akan menikah dengan teman satu kampusnya, Naula namanya, gadis cantik yang lahir dan berdomisili di kota yang terkenal dengan panganan khasnya gudeg ini pernah menjadi foto model di kala SMA dulu, dia dilahirkan dari keluarga pengacara, ayahnya dan kedua pamannya adalah seorang pengacara.

Haris mengenal Naula ketika mereka sama-sama satu kampus di salah satu Universitas di Yogyakarta, mereka bertemu saat masa orientasi dimana Haris yang saat itu baru masuk, di ospek oleh Naula yang saat itu menjadi panitia ospek tersebut, meskipun usia Naula satu tahun diatas Haris, namun hal ini tidaklah menjadi penghalang bagi rasa cinta mereka berdua.

Pokoknya Cantik dan tajir deh….komentar itulah yang kerap terdengar ketika Haris menceritakan mengenai calon istrinya tersebut kepada keluarga.

”Sholatnya gimana ka?”
pertanyaan ini pernah dilontarkan oleh Lifi, ketika ia mengetahui bahwa calon kakak iparnya ini sering mengenakan pakaian yang sexy-sexy, namun Haris justru mengatakan bahwa hal ini adalah masalah gampang, sebab nanti jika sudah nikah, pasti mudah merubahnya.

Saat itu Lifi menasehati untuk tidak memandang wanita hanya dari kecantikan fisik dan kekayaannya, tapi juga dari sisi Agama dan kecantikan dari dalamnya atau inner beauty. Namun apalah arti nasihat dari adiknya ini, Lifi yang saat itu masih satu tahun duduk dibangku D3 tidak pernah digubris.

Sedangkan kedua orangtua tentu sangat setuju, restu serta full-support diberikan atas pernikahan putra pertama mereka, sebab memang dari kacamata duniawi, tidak ada “cacat” yang terlihat dari sang pujaan hati anaknya itu.

Singkat kata pernikahanpun digelar, jarak Depok-Yogya bukanlah penghalang, bahkan tetangga satu gang mereka (kira-kira satu gang 20 Kepala Keluarga) untuk Ibu dan Bapaknya diundang dan diberikan fasilitas transportasi serta penginapan gratis guna mengiringi dan menemani undangan calon pengantin ini.

Suksesi acara pernikahan pun digelar, seluruh acara nyaris bisa dikatakan lancar dan sukses, sungguh terasa aura kebahagiaan dari senyum mereka berdua, seluruh keluarga besarpun sangat bahagia dan bangga atas perhelatan perdana bagi kedua mempelai.

Sesudah acara selesai mereka berdua memutuskan untuk tetap tinggal di rumah yang sudah disediakan oleh orang tua Naula di Yogyakarta, Kota dimana Haris pun bekerja di salah satu Hotel bintang lima disana.

Sembilan bulan sudah usia pernikahan mereka, Bahtera kehidupan Haris-Naula sepanjang kabar yang disampaikan pertelpon kepada keluarga Haris di Depok adalah kabar bahagia, seluruh anggota keluarga menyimpulkan hampir tanpa kerikil kehidupan terlihat pada kehidupan mereka, bahkan ketika mereka dikaruniai debut anak perempuan, keduanya makin tampak mesra, ditambah lagi ketika sang istri diterima bekerja di Bank Indonesia (BI) sedangkan Haris diangkat sebagai manajer di Hotel tempatnya bekerja….sempurna sudah kesuksesan mereka, rumah dan kedua mobilpun kini mereka miliki sendiri.

Ayah dan Ibu Haris pun sangat bangga pada anaknya yang satu ini, sebab memang diantara ketiga anaknya yang lain, hanya Haris-lah yang sudah bisa hidup mandiri, lepas dari orang tua dengan segudang kenikmatan duniawi.

Tahun Pertama Sesudah Pernikahan

Ternyata kacamata sukses yang selama ini terlihat dan tergambar diatas tidaklah seindah yang dipikir keluarga.

Ketika usia buah hati Haris saat itu masih 6 bulan, kehidupan Haris mulai berubah, dimulai dari sang Istri yang sering pulang sampai larut malam, bahkan dengan alasan dinas keluar kota, tidak pulang pun sudah menjadi hal yang biasa bagi Ibu muda yang gemar mengenakan jeans pinsil ini, sifatnya mendadak menjadi pemarah dan sensitif, karirnya yang melesat, penghasilan yang lebih tinggi dari suaminya serta pergaulannya dengan teman kantor yang tanpa batas adalah pemicu utama perubahan ini.

Jangankan merubah cara berpakaian seperti yang pernah di sepelekan oleh Haris, bahkan saat ini mukena pun jarang digunakan lagi.

”ternyata tidak mudah merubah orang, meskipun kita sudah mengikatnya” sesal Haris ketika mengetahui bahwa istrinya juga tidak berpuasa Ramadhan meski sedang tidak ada halangan.

Keluarga Haris di Depok tidak mengetahui akan hal ini, sebab memang Haris tidak ingin masalah ini di ketahui oleh Keluarganya di sana.

Tahun Ke-2 sesudah pernikahan

Ketika lebaran tiba orang tua Haris mulai mengetahui bahwa sesuatu pasti terjadi pada rumah tangga Haris, sebab ia datang ke rumah hanya ditemani oleh mobil eropa miliknya, tanpa istri dan anak.

Awalnya Haris berusaha menutupi apa yang terjadi pada dirinya, namun Ibunya dengan naluri keibuannya mengetahui bahwa sesuatu pasti telah terjadi melalui sikap dan bathin yang diekspresikan dengan gaya bicara Haris, dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa rumah hasil kerja keras Haris selama ini, ternyata sudah dijual oleh istrinya, alasannya untuk membantu usaha bisnis keluarga Naula yang katanya sedang mengalami krisis, kini mereka menempati lagi Rumah yang dibelikan oleh orang tua Naula.

Lebaran telah berlalu, meskipun Haris masih banyak menutupi masalah yang dihadapinya namun keluarga merasa berat berpisah dengan haris kali ini, mungkin karena mereka tahu bahwa seluruh masalah sedang menanti di rumah yang dulu pernah dibilangnya sebagai rumahku surgaku oleh Haris.

Ternyata kekhawatiran ini sangatlah beralasan, tiga bulan setelah haris meninggalkan tanah kelahirannya, Ayah Haris ditelpon oleh besannya bahwa mereka akan menuntut cerai Haris, sebab katanya Naula memergoki Haris sedang berduaan dengan wanita lain, bahkan mereka memiliki foto-foto bukti perselingkuhan mereka.

Setelah keluarga Haris mendapat kabar burung ini, mereka pun segera mengkonfirmasikan hal ini ke Haris, lain versi Naula, lain pula cerita versi Haris, menurut Haris ia tidak pernah melakukan apa yang difitnahkan oleh istrinya itu, namun ia memang mengakui bahwa ia kepergok sedang jalan dengan teman wanita sekantornya, tapi wanita itu bukanlah selingkuhannya, ia hanya teman biasa yang kebetulan sedang mendapat tugas bareng meeting dengan klien, sedangkan mengenai foto-foto itupun juga benar adanya, namun sekali lagi ia katakan bahwa wanita yang ada dalam foto itu adalah hanya sebatas teman kantor dan tak lebih, bahkan justru menurut Haris, ada skenario yang sedang dijalankan oleh Istri dan keluarga istrinya tersebut, terbukti dari hasil foto-foto yang katanya sempat beredar di internet, merupakan hasil foto yang sangat profesional sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh orang yang memfoto bisa membahasakan bahwa dirinya memang ada affair.

Selain itu pula Haris mendapati sms-sms mencurigakan dari nomor tak dikenal yang tersimpan dalam HP istrinya, mulai dari kata-kata ”sayang kamu lagi ngapain” hingga pertanyaan ”kapan kamu bercerai ?”.

Haris memang pernah menanyakan hal ini kepada istrinya, tapi justru istrinya dengan santai menjawab ”walah mas gitu aja curiga...bahasa sayang-sayangan itu biasa di kantor ku, justru kamu yang keliatan terang-terangan selingkuh di depan mata”

Akhirnya sidang perceraian pun digelar, Istri Haris yang telah berkolaborasi dengan ketiga pengacaranya dan kebetulan memang masih family memang sangat lihai, sehingga dengan sangat mudah tuntutan kepemilikan berupa seluruh harta gono-gini serta hak asuh atas anak adalah jatuh ketangan sang Istri.

Keputusan pengadilan yang ia terima itu sangat menyakitkan, ditambah lagi isu yang beredar dilingkungan kantor mengenai perselingkuhannya dengan mitra kerjanya menambah sempit dunia yang kini dihadapinya.

Tahun Ke-3 setelah pernikahan

Selanjutnya Haris memutuskan untuk hijrah, mengundurkan diri dengan meninggalkan gaji dan jabatannya yang pernah dirintisnya dari nol, meninggalkan rumah, anak, istri serta seluruh kenangan di kota budaya yang terkenal dengan jalan malioboronya.

Haris kembali ke rumah orang tuanya di Depok dengan tangan kosong, hanya pakaian yang menempel di tubuhnya yang tersisa sebab ketika keputusan pengadilan menyatakan kemenangan bagi Naula, sejak itu pula Haris dilarang oleh Naula menginjakkan kaki di kediamannya.

Rahasia dibalik peristiwa ini masih misteri, skenario yang di jalankan oleh Naula dan tim suksesnya belum dapat diketahui, Haris pun kini tinggal bersama keluarganya lagi, meniti hidup baru, melangkah bersama mencari hikmah dibalik kenyataan yang diberikan Allah kepada dirinya.

(Bersambung)

(Qs. AN Nuur 26.) Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)

Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya, dari sahabat Abu Hurairah ra :
Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.

(Al Furqaan 74.) Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. http://www.alifiarahmany.blogspot.com/


Baca Selanjutnya...

Wednesday, October 29, 2008

Nada Dan Lifi (Seri 1)

Hari Gene Ngga Percaya Tuhan!

Malam itu Nada pulang kuliah bersama teman satu kelasnya Lifi, meskipun mereka baru beberapa minggu saling mengenal, namun kebutuhan akan teman ngobrol dalam perjalanan, membuat mereka tampak akrab. Kehangatan, canda serta tawa seringkali mengiringi perjalanan mereka.

Nada adalah seorang gadis keturunan betawi sunda berambut ikal panjang, perempuan berkacamata dan sering menguncir rambutnya ini mengaku pernah menggunakan jilbab selama dia duduk dibangku kuliah D3 dulu, pendidikan agama yang kurang dari keluarga serta pergaulan lingkungan merupakan penyebab utama ditinggalkannya kewajiban muslimah ini, Nada dilahirkan dari keluarga yang kurang harmonis, ayahnya bercerai dan menikah lagi dengan perempuan lain ketika ia berusia 17 tahun, sehingga Ibunya menjadi single parent bagi Nada dan ke-2 adiknya, Nada bekerja pada salah satu perusahaan minyak milik Amerika di Jakarta Pusat, beruntung diusianya yang kini menginjak 25 tahun, Nada sudah memiliki penghasilan yang lumayan tinggi, sehingga kini iapun menggantikan peran Ibunya sebagai penunjang ekonomi bagi keluarganya, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan adik-adiknya, ditambah lagi saat ini perusahaan tempatnya bekerja membiayai dirinya untuk meneruskan kuliah menuju jenjang sarjana, sebab memang ia merupakan salah satu kandidat yang akan di promosikan menduduki Jabatan strategis.

Berbeda dengan Nada, Lifi adalah seorang gadis berjilbab berdarah Padang dan bekerja sebagai karyawati di salah satu perusahaan Advertising di Jakarta Selatan, adapun alasan mengapa ia harus meneruskan kuliahnya lagi adalah karena perusahaan tempatnya bekerja saat ini dikabarkan akan colapse alias bangkrut, sehingga ia merasa perlu mengupgrade gelar pendidikannya untuk mempersiapkan kondisi terburuk yang akan terjadi nanti.

Seperti malam-malam kemarin di Jakarta, meskipun saat ini jam menunjukkan pukul sembilan, namun yang namanya jalan di kota Jakarta masih tetap macet, bahkan bangku bus jurusan Jakarta-Depok yang baru saja mereka tumpangi pun tampak penuh, beruntung mereka masih kebagian tempat duduk, meskipun mereka agak sedikit berjuang dalam memperoleh tempat duduk, sebab keduanya memperoleh sisa tempat duduk di pojok kanan kursi panjang paling belakang.

Setelah lima menit mereka mendapatkan tempat duduk, Lifi menghela nafas sambil membuka pembicaraan “eh dua hari kemaren kemana?”, sambil meletakkan tas di pangkuan, Nada menjawab “Uhmm ada seminar di luar kota”

“luar kotanya mana da” dengan penasaran Lifi kembali bertanya. “Malaysia fi” Nada pun menjawab, kali ini dengan sedikit tersenyum malu-malu

“waah itu mah bukan cuman luar kota namanya, luar…….” Pembicaraan Lifi terpotong karena kernet Bus tiba-tiba muncul dari arah tangga pintu belakang “maaf neng, ongkosnya”, keduanya pun mengeluarkan uang sepuluh ribuan, namun karena Lifi duduknya berada paling dekat dengan kernet, maka Lifi pun lebih dahulu menyerahkan uang tersebut, “ini dua bang!” kata Lifi segera setelah menyerahkan uang itu kepada kernet Bus, “makasih ya Fi, besok giliran aku yah yang bayarin” kata Nada sambil memasukkan uangnya kembali kedalam tas

“siip…,..eh tadi sampai mana?...ehmm, o iya seminarnya tentang apa sich ko sampe jauh-jauh ke sana segala, emang di Indonesia ngga ada ya” kembali Lifi bertanya, ekor matanya mengarah pada lawan bicaranya

“Sebenernya sih, seminarnya ga penting, soalnya itu tuh cuman cara rekanan perusahaan kasih entertaint ke kita, supaya loyal ke mereka, intinya sich, sampe sana jalan-jalan doang, paling-paling,… formal seminarnya cuma tiga jem”, jawab nada dengan aksen betawinya yang khas, kali ini ia sambil mengeluarkan permen dan menyodorkan ke teman ngobrolnya itu

Sambil menerima dan membuka bungkus permen, Lifi berkata “makasih ya…, tapi tetep aja judulnya enak kan da, bisa jalan-jalan, refreshing ke luar negri, gratis lagi” kali ini Lifi terdiam sejenak sambil memasukkan permen ke mulutnya

“udah sering da, ke luar negri kaya gini?” Lifi kembali bertanya, “ya..lumayan fi, emang dari sma dulu, aku tuh punya impian bisa keliling ke negri orang, ngerasain musim yang ngga ada di Indonesia, makanannya, budaya dan keseniannya,.. eeh…… akhirnya kesampean juga tuh sekarang, malah aku bisa ngerasain itu semua tanpa harus pusing mikirin biaya!, alias gratis fi….oh thanks god” jawab nada sambil memandangi pemandangan macet dari jendela bus

“Kemana aja da luar negerinya?” tanya Lifi lagi, “mm..baru Perancis, Jepang, Jerman, Amerika, Arab dan terakhir ya Malaysia fi” jawab Nada singkat, dan sebelum pembicaraan dilanjutkan, Lifi tampak heran melihat temannya itu seperti sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya

“cari apa da?” tanya Lifi,
sambil membuka-buka resleting kantong depan, Nada menjawab “Hape…tadi aku taro disini deh…kemana ya..soalnya tadi waktu kuliah kan aku matiin, aku lupa ngidupin lagi nih…”

“haa ini dia” akhirnya Nada menemukan HP nya di antara tumpukan buku-buku dalam tasnya itu, dengan agak tergesa Nada segera menyalakan HP tersebut….dan …
tut tut…ringtone khas sms pun berbunyi, dengan mata berbinar Nada pun membacanya, kali ini ekspresi raut wajah Nada berubah menjadi sangat ceria dan sambil tersenyum-senyum jari tangannya pun sibuk membalas sms itu, Lifi yang dari tadi memperhatikan temannya itu, akhirnya mengomentari “waah seneng baget sih…dari pacar ya…kok senyum-senyum sendiri…awas ntar ada yang nyangka gila loh”, sambil tersenyum nada pun berkata “iya nih lagi mbales sms orang, abis lucu-lucu sih kata-katanya”

“ya iya lah sms dari orang……masa dari kebo sih!” jawab Lifi sedikit sewot,
“temen..temen, gitu aja sewot” kata Nada, sambil terus menekan tuts hapenya,

“temen … apa temen?” goda Lifi,
“yaa….aku sih baru kenal dua bulan yang lalu, waktu aku seminggu di Jerman, kita sama-sama dateng ke seminar dan kebetulan aku dan dia duduknya bersebelahan, ngobrol-ngobrol…trus ujung-ujungnya kenalan dan minta nomer hape deh” jawab Nada

“cowo apa cewe, namanya siapa da?” tanya Lifi lagi,
“cowo fi, namanya….Henry, sejauh ini sih kita cuman sebatas telpon-telponan, smsan dan ga lebih…tapi..terus terang, emm sejak si Henry itu hadir dalam hidupku, hari-hariku tuh jadi banyak ketawa…abis ya itu tadi, semese…eh sms nya lucu-lucu..tuh kan jadi belibet deh saking semangatnya…”

“belibet apa kepelet…hi..hi..hi….eh dia asli sana apa cuma tinggal doang?” tanya Lifi lagi,
sambil mengangguk Nada mengiyakan pertanyaan Lifi “Ya dia emang asli sana, tinggal disana dan kerja disana, dia kerja di oil company juga, tapi benderanya beda,…..eh tapi dia udah pernah ke Indonesia loh, sekitar satu tahun yang lalu, dia pernah ke Bandung dan Kalimantan…”

“waah keliatannya udah nemu nih jodohnya, udah daa.. jangan lama-lama, umur udah siap, materi ada, …kalo emang dia se-iman dan ada tanda-tanda yang sama, ajak merit aja...” kata Lifi

“enak aja….emang kita kucing apa, ketemu langsung kawin, lagian jangan geer dulu kali...,
mmm………., tapi…. kalo aku peratiin dari cara liatnya ke aku, cara ngomong dan sms nya sih emang ada tanda-tanda kesana, dia juga pernah bilang tuh, kalo dia lagi sendiri dan nyari calon istri…waktu itu sih deg-degan juga pas dia curhat masalah itu..tapi…belom-belom…” Nada diam sejenak sambil geleng-geleng

“tapi fi…” kali ini wajah Nada berubah menjadi serius

“banyak kata-kata tapi nih dari tadi, ada kali 100 kalo diitung...tapi apa da?….ayo terusin dong, jangan jadi grogi gitu dong” Lifi makin penasaran

“iya nih, abis bingung ngomongnya....dia itu orang yang ga percaya Tuhan!” Nada tampak berfikir dan diam sejenak “eh salah deh…mmm dia percaya Tuhan, tapi.. ngga percaya ama Agama” jawab Nada sedikit merendahkan suaranya
“ngga percaya Agama!,…mmm” sambil sedikit mengerutkan dahinya Lifi meneruskan “ya…emang sih di eropa wajar kok banyak pemikiran seperti itu, sejarah juga mencatat, banyak catatan-catatan hitam mengenai pemusnahan Agama disana…..” keduanya diam sejenak

“aku pernah ngobrol-ngobrol, diskusi tentang agama ama dia, tapi malah aku yang kalah omongan” kata Nada membuka obrolan lagi

“berat emang da, diskusi masalah gituan, salah-salah malah kamu yang tertarik ama prinsip dia, kamu harus punya banyak wawasan agama dulu, mulai dari diri sendiri mungkin lebih baik, atau buat referensi kamu bisa baca-baca buku tentang ke Islaman… eh aku ada tuh buku bagus karangan hajah irene handono, kayaknya pas tuh da….atau…o iya aku punya cerita..”

agak sedikit ragu-ragu Lifi meneruskan “tapi kayanya kurang pas sich..soalnya ceritanya itu tentang dialog antara orang yang ga percaya tuhan sama orang saleh….masalahnya dia itu kan percaya ama tuhan ya?”

Sambil menyimak penuturan Lifi, fikiran Nada kali ini sedikit merenung…”mm ngga papa deh fi, siapa tau aja ntar bisa kepake”

“cuman ceritanya aku aga-aga lupa nih, maklum udah lama cerita ini aku dapet waktu pengajian bulan lalu, mudah-mudahan sich ga salah,….” sambil menegakkan badan dan menggaruk kepala, Lifi mulai bercerita

“Ada seorang salafus shalih, kalo ngga salah sich….mmm….namanya Hasan Al Bashri deh, beliau ditantang oleh orang-orang kafir yang ga percaya ama ALLAH, waktu itu mereka sepakat bertemu pada tempat dan waktu yang telah disepakati bersama, pada saat yang ditentukan orang-orang kafir tersebut sudah menunggu di tempat itu, tapi beliau masih belum dateng juga nih, mereka..udah pada seneng duong…. mereka sudah menyimpulkan dan berkomentar, ada yang bilang beliau takut kalah, ingkar janji, tukang boong, pokoknya banyak komentar-komentar buruk lain gitu deh” sambil menghela nafas Lifi meneruskan ceritanya lagi

“naah saat terjadinya kasak-kusuk tadi, datenglah Hasan Bashri, tentu kedatangannya langsung disambut dengan berbagai pertanyaan seputar keterlambatannya”

“Kenapa terlambat?” tanya salah seorang dari mereka, dengan tenang Hasan Al Bashri bercerita “sewaktu aku berjalan menuju kesini, terjadi hujan lebat dan Banjir, sehingga ada jembatan yang seharusnya aku lewati, roboh berkeping-keping, sehingga aku menunda sejenak perjalananku, setelah itu aku berdoa kepada ALLAH agar diberikan kemudahan dalam perjalanan ini, dan ALLAH pun mengabulkan doa ku, jembatan yang semula roboh pun, atas izin ALLAH akhirnya bisa kembali seperti semula, dan aku bisa melewati jembatan itu”,

Seusai menceritakan alasan keterlambatannya, orang-orang kafirpun mulai bertanya “bagaimana mungkin jembatan yang udah roboh bisa berdiri sendiri” kata salah seorang dari mereka yang kebetulan mengetahui juga nih perihal jembatan yang roboh,

“kamu pasti boong, batu puing-puing nya jalan sendiri gitu…” sambil ketawa, mereka mulai mengolok-olok,

“kan ngga mungkin kalo benda mati seperti batu-batu puing itu bisa bergerak sendiri, pasti ada yang nggerakin, apakah anda bawa rombongan?” masih dengan nada mengejek, mereka terus berkata

“denger…ya, ALLAH itu ngga ada, kami ngga percaya kalau kamu beralasan seperti itu, sekali lagi kami katakan, bahwa ngga mungkin jembatan itu bisa kembali seperti semula, sesuatu ngga mungkin jalan sendiri, sesuatu itu ada, pasti ada orang yang bikin…atau ada yang nggerakin..ngga mungkin sesuatu itu bisa muncul sendiri”

mendengar kata-kata yang terakhir itu, Hasan Al Bashri tersenyum seperti mendapatkan sebuah kata kunci dan berkata “Wahai saudaraku,…tadi kalian katakan bahwa sesuatu itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya kecuali ada yang memunculkan, tadi kalian katakan juga bahwa sesuatu benda mati tidak mungkin bisa bergerak sendiri kecuali ada makhluk hidup yang menggerakkannya, seperti halnya onta yang menarik gerobak, benar begitu”

secara bersamaan dan sedikit bingung dengan maksud pertanyaannya, mereka pun menjawab “Benaar….”

“Kalau benar demikian, saya akan bertanya, siapa yang menciptakan bumi, matahari, bulan, hewan, tumbuhan dan manusia ?...kan kalian tadi bilang kalau sesuatu itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya kecuali ada yang memunculkan atau dengan kata lain sesuatu itu tidak akan ada kecuali ada yang menciptakannya…..kemudian satu lagi siapa yang menggerakkan bumi, matahari dan bulan,……….benda-benda mati itu bisa bergerak, terbit atau tenggelam, bisa ada siang dan malam, ada hujan, petir, badai………….coba kalian fikir dan katakan pada saya siapa yang menggerakkan mereka semua”

orang-orang kafirpun menjadi kebingungan menjawabnya, sebab mereka ditanya dengan pertanyaan yang muncul dari pernyataan logika mereka sendiri, pertanyaannya sangat sederhana tapi sangat mengena logika mereka

“ALLAH lah wahai saudaraku, ALLAH yang menciptakan seluruh alam semesta, ALLAH pula yang menggerakan semua sesuai kehendaknnya dan hendaklah kalian semua beriman dan mempercayai ALLAH” mendengar kata-kata tersebut, bergetarlah hati mereka, mereka tidak bisa lagi mengelak, karena secara logis apa yang dikatakan oleh Hasan Al Bashri adalah benar, sehingga hati nurani pun terbuka untuk menerima hidayah dari ALLAH SWT…..

“naah gitu da…ceritanya” Lifi mengakhiri ceritanya sambil menatap wajah Nada yang terlihat agak pucat “da kamu kenapa, kok jadi keliatan pucet sich…kamu sakit?” masih tampak pucat nada menjawab “ ee..eh ng…ngga kok, Cuma aku tertarik aja ama cerita kamu, seru lagi fi…! Wah udah mau nyampe nih fi, aku siap-siap dulu ya, assalamualaikum…” sambil bergegas dari tempat duduknya, Nada melambaikan tangan “waalaikum salam” jawab Lifi, sambil memandangi Nada yang tampak terburu-buru.
----------
Nada berjalan kaki menuju rumahnya sambil memandangi bus yang baru saja berlalu, “hampir setengah jam lebih perjalanan kulalui,….terimakasih ya ALLAH engkau telah pertemukan aku dengan seorang teman baru yang mengingatkan menuju ke jalan Mu” Nada berbicara dalam hati, sambil melihat jam tangannya yang saat itu menunjukkan pukul 09.30 malam, tak terasa air matapun mengalir di saat ia memandangi langit cerah yang dihiasi bintang serta bulan purnama “ada bintang....ada bulan…pfff…bener kata lifi….ngga mungkin benda-benda itu muncul sendiri, pasti ada yang nyiptain, pasti ada yang gerakin semuanya… rumput yang kuinjak ini sebulan yang lalu baru dicabutin, tapi sekarang udah muncul lagi….ya ALLAH kenapa aku baru mikir sekarang ya….dari dulu kemana aja sih otak ini… “

Masih dalam keadaan merenung Nada akhirnya sampai di depan rumahnya, Nada melihat lampu di ruang tamu masih menyala, “Assalamualaikum ”, Nada membuka pintu dan masuk, tampak di kursi tamu sang Ibu menunggu sambil menonton televisi, Nada segera meraih dan mencium tangan Ibunya

“belum tidur bu?” tanya Nada
dengan wajah heran perempuan setengah baya itupun menjawab “Belum,….kan biasanya juga nungguin kamu!, eh ada apa nih, kok keliatannya malam ini kelakuanmu agak aneh?” Nada yang memang sudah lama tidak pernah mengucapkan salam dan mencium tangan Ibunya, memandangi sejenak wajah ibunya yang ternyata sudah mulai banyak menampakkan keriput dan uban

“ngga kok bu, Nada cuman pengen berubah lebih baik aja, ngga papa kan?, bu Nada mau mandi dulu nih..Ibu tidur duluan aja ya” sambil berdiri dan masuk ke kamar tidur, Ibunya Nada berkata “ya udah, jangan malem-malem tidurnya ya sayang”

“Oce bu” jawab Nada masuk kekamar mandi.

Setelah selesai mandi dan berwudhu, Nada mencari-cari sesuatu didalam lemari bajunya “Nah ini dia,…wah udah bau apek lagi…ambil yang baru lagi dimana ya” kali ini Nada mencoba mencari di lemari lainnya

“Alhamdulilah ketemu juga” sambil membuka plastik pembungkus, Nada mengeluarkan isinya, rupanya pakaian shalat berwana putih lengkap dengan sajadahnya itu masih rapi tersimpan dan masih wangi pengharum toko, entah berapa lama Nada memang sudah tidak lagi menunaikan kewajiban shalat, bukan karena masalah tamu bulanan saja, namun memang sejak ditinggal pergi ayahnya Nada sudah tidak lagi percaya tentang keberadaan ALLAH.

Nada mulai mengenakan mukena tersebut dan menggelar sajadah, selama shalat isya beberapa kali Nada tampak menitikkan air mata, seusai mengucapkan salam Nada berdoa dengan suara lirih

“Ya ALLAH ya tuhan ku, terimakasih engkau masih menyayangi hambaMu yang telah lama melupakanMu, hamba pernah tidak mempercayai keberadaanMu ya ALLAH, tapi engkau masih memberi sinar hidayahMu kepada hambaMu yang telah lama mengingkariMu,

“Ya ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang, terima kasih engkau masih memberikan kasih sayang kepada hambamu, engkau masih memberi kesehatan kepada jiwa raga ku, disaat hamba sudah sering mendzalimi jiwa ragaku sendiri, bahkan banyak dosa yang tak terhitung telah aku lakukan, ampunilah dosa-dosaku ya ALLAH, dosa yang ku sengaja maupun tidak disengaja, dosa ketika aku sering melalaikan kewajibanku dengan sengaja tanpa uzur, dosa ketika aku sengaja melakukan kemaksiatan”

Masih dalam posisi menengadahkan tangannya Nada teringat ketika ia sering keluar malam hingga larut pagi hanya untuk bersenang-senang di kafe atau tempat dugem lainnya, dosa ketika ia sering menyakiti ibunya dan terakhir ia teringat ketika ia mulai melepaskan jilbabnya waktu belum genap setahun bekerja

“Ampunilah Ya ALLAH….Robbana aatina fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar, walhamdulillahhirrobbil’aalamin”

Seusai bermunajat, nada pun tertidur diatas sajadah, masih menggunakan mukena, jasadnya tertidur, namun jiwanya baru saja terjaga dari tidur yang panjang, jiwa yang baru saja bangun untuk mengenal kembali siapa tuhannya, matanya yang terpejam baru saja digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan sang khalik, mata hatinya bagaikan cermin yang baru saja dibersihkan dari debu, siap menerima pantulan cahaya kasih sayang sang pencipta, dengan menggunakan akal dan rasionalitasnya Nada menerima kenyataan serta mempercayaai bahwa ALLAH SWT adalah ada, ALLAH SWT adalah Tuhan semesta alam, sang pencipta dirinya dan Alam semesta.

(bersambung)

------------------------------------

(QS: 2:164) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

(QS:10:6) Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.

--Basuki Achmad--
Baca Selanjutnya...