Showing posts with label Sisi Terang. Show all posts
Showing posts with label Sisi Terang. Show all posts

Thursday, September 3, 2009

Ramadhan, Gempa dan Kiamat

Hari Rabu kemarin, ALLAH Swt kembali mengingatkan kita, dengan menampakkan kuasanya, keperkasaannya dan keberadaannya dengan sedikit menggerakan bumi, gempa terjadi di Jawa barat, Jakarta dan sekitarnya dengan skala 7,3 SR

Sampai dengan tadi malam, kurang lebih 50 korban meninggal dunia, ratusan luka-luka dan begitu banyaknya rumah yang rusak akibatnya.

Hal ini terjadi di Bulan Ramadhan kali ini, bulan yang harusnya menjadi tempat untuk memohon rahmat, ampunan serta pembebasan api neraka, lalu apa maksud dari ALLAH memberikan gempa ini?

Mari kita sama-sama renungkan, kita cek lagi niat puasa dan ibadah lainnya, apakah setelah 10 hari pertama, puasa kita sudah benar-benar Lillahita’ala, apakah kita masih menghadirkan ALLAH dihati kita, atau barangkalai hati kita ini sudah terlalu banyak cabangnya, mulai dari sibuk memikirkan Kacang, kue lebaran, THR, persiapan mudik, Baju Lebaran dan begitu banyak hal yang menyebabkan kita sibuk dengan masalah tradisi.

Melalui gempa kemarin ALLAH ingin mengingatkan bahwa DIA ada dan seandainya ALLAH mau, DIA bisa menggerakkan bumi lebih dari 7,3 SR tapi ALLAH juga masih menyayangi kita, ....hal itu tidak dilakukannya

Dengan gempa ini pula ALLAH ingin mempertanyakan, masih lengkapkah keimanan kita, percayakah kita dengan keenam rukun iman :
  1. Kita diingatkan lagi bahwa kita masih punya ALLAH sebagai tuhan kita, satu-satunya Tuhan yang wajib kita sembah, sebagai tempat satu-satunya untuk meminta dan berdoa, yang selalu mengawasi niat dan prilaku kita sehari-hari dan ALLAH pun bisa berbuat apa sekehendaknya, milikNya lah manusia dicipta, dan ALLAH pun berhak mengambil nyawa kita kapanpun dan dimanapun.
  2. Kita harus percaya bahwa ada Malaikat sebagai mahkluk yang senantiasa barada di kanan kiri kita untuk mencatat amal, perbuatan dan tingkah laku kita baik yang dilakukan ditempat sunyi atau ramai, gelap atau pun terang tak akan luput cari catatannya.
  3. Kita juga diingatkan bahwa kita harus percaya adnya Nabi Muhammad sebagai utusan ALLAH, sebagai contoh akhlak dan sunnah yang harus kita tiru, sehingga puasa kita kali ini tidak melulu mengerjakan hal-hal yang sifatnya tradisi yang terkadang jauh dari sunnahnya.
  4. Percaya pada isi kandungan Alqur’an, memahami dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari .
  5. Diingatkan juga bahwa kita mesti percaya bahwa ada qadha dan qadar yang sudah ditetapkan oleh ALLAH Swt
  6. Terakhir adalah kita harus percaya pada hari kiamat yang datangnya pasti, namun waktunya hanya Allah yang tahu
Khusus mengenai kiamat, coba kita bisa bayangkan gempa 7,3 SR, betapa paniknya kita, ada yang panik keluar rumah, gedung, tempat ibadah, bahkan istana negara yang penjagaannya super ketatpun tak luput dari kehendak ALLAH.

Sahabat Livi,
Akhir-akhir ini banyak sekali buku yang membahas masalah kiamat, ada yang bilang terjadi di 2012, 2014 dan utdz Ikhsan tanjung sendiri dalam salah satu tulisannya menyebut angka 2014 sebagai turunnya Imam mahdi dengan mendasarkan pada hadis-hadis mengenai tanda kiamat.

Apa yang mendasari terbitnya buku-buku ini salah satunya adalah karena ada informasi yang disampaikan oleh NASA (pusat penelitian antariksa) kepada publik bahwa telah ditemukan Asteroid (bintang) yang ukurannya 1/15 nya bumi yang sedang bergerak menuju bumi, diperkirakan menurut hitung-hitungan matematika, kurang lebih 10 tahun lagi tiba dan menghantam bumi dengan mudah, kenapa dikatakan mudah, sebab lapisan ozon/atmosfir sudah robek dimana-mana atau rusak akibat ulah manusia juga, dan ketika menghantam bumi diprediksi akan menimbulkan tubrukan dan guncangan yang dahsyat serta tumpahnya air laut ke daratan, sebuah tsunami yang lebih besar dari yang terjadi di Aceh dan total kerusakan bumi diperkirakan akan mencapai 40%, sehingga hanya 60% sisa permukaan bumi, bisa dibayangkan yang terjadi kemudian...

Mau lari kemana kita, sementara tempat berpijak kita sudah hancur, sehingga tidak ada daya lagi, bagaimana manusia menolong dan ditolong, sedangkan menolong dirinya sendiri saja ia tidak mampu.

Sahabat Livi,
Apa yang telah diperhitungkan oleh penelitian NASA ini sebenarnya telah di beritakan oleh ALLAH dalam surat AL-INFITAAR, mari kita simak tafsir Al Infitaar ini :

  1. Apabila langit terbelah,
  2. dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
  3. dan apabila lautan dijadikan meluap,
  4. dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,
  5. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
  6. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.
  7. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang,
  8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu.
  9. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
  10. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
  11. yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
  12. mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  13. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan,
  14. dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
  15. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.
  16. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.
  17. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
  18. Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
  19. (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
Semoga dengan gempa yang terjadi kemarin kita bisa memetik hikmahnya dan bisa mengembalikan niat puasa kita, kita bisa menghadirkan ALLAH dihati kita, sehingga kita bisa termasuk kepada golongan mutaqqin, yang akan memperoleh pertolongan ALLAH agar terhidar dari hari kiamat dan meraih syurga-Nya. - www.alifiarahmany.blogspot.com
Baca Selanjutnya...

Wednesday, July 8, 2009

Senyum Pemilu

Pemilu 2009 baru saja berakhir, hasil quckcount dari beberapa lembaga survei dan KPU sendiri sudah mulai kelihatan hasilnya, dalam beberapa hitungan hari kita akan memperoleh pasangan presiden yang baru untuk memimpin Indonesia 5 tahun mendatang.

Saat yang lain sibuk dengan prediksi, komentar dan analisa dari hasil pemilu ini, kami coba mengulas cerita sisi lain yang membuat kami tersenyum saat pemilu ini, mudah-mudahan bisa bikin tersenyum yang lain.

Cerita 1 : Nama-Nama Capres Besok
Kejadiannya terjadi satu hari sebelum hari H didepan rumah kami, Sebut saja Melati, perempuan pemilih pemula. Bertemu dengan Ibu A saat ia sedang membagi-bagikan selebaran capres XX.

Ibu AA: Mel, besok nyontreng apa?
Melati : ngga tau Bu, Saya sih disuruh ama mamah pilih yang ada diselebaran ini
Ibu AA: kamu tau nama-nama capres besok ngga?
Melati : Ngga Bu, emang nomor 1 siapa sih?
Ibu AA: Megawati
Melati : oo..Megawati, Kalo nomor 2, siapa Bu?
Ibu AA: SBY Mel
Melati : nomor 3 siapa ?
Ibu AA: yaa Jusuf Kalla...
Melati : Trus kalo nomor 4 ?
(Sambil senyum dan mencoba bercanda, Ibu meledek Melati)
Ibu AA: kalo nomor 4 itu..ya Aku Mel, jangan lupa pilih Aku ya besok
Melati : beres..Bu.... nah sekarang kalo nomor 5 siapa Bu?
Ibu AA: aduh Mel..nomor 4 aja ngga ada apalagi nomor 5
Melati : ooo katanya tadi nomor 4 Ibu...

Cerita 2 : Salah Tanya
Kali ini kejadiannya terjadi di TPS tempat kami jadi salah satu KPPS disana

KPPS1 : Bu, kok nyoblos sendirian, ngga sama Bapaknya?
Ibu A : Wah tadinya mau semalem, tapi ngga jadi.
KPPS1 : Lho kenapa ngga jadi? (pasang muka heran)
Ibu A : Abis Bapaknya pulang malem banget, kecapean katanya....P (Nyengir)
KPPS1 : Oo..(berbisik ke KPPS 2) saya tadi nanyanya nyoblos sih, harusnya kan nyontreng..


Cerita 3 : Harus Jelas Instruksinya
Malam harinya setelah Pemilu, ada obrolan antara Koordinator Saksi dari calon XX sebut saja Bapak A dan Pelaksana Saksi calon XX sebut namanya Saksi XX, Bapak A baru saja memberikan honor kepada saksi XX.

Bapak A : wah gimana nih, di TPS sini kita kalahnya jauh ya?
Saksi XX : iya Pak, abis semalem ada yang bagi-bagi duit 20 ribuan, untuk pilih calon YY.
Bapak A : Kamu sendiri dapet?
Saksi XX : ya iyalah pak, lumayan buat beli rokok.
Bapak A : trus kamu tadi nyontreng apa jadinya?
Saksi XX : Jelas pilih YY dong, kan semalem udah dipesenin ama yang bagi, untuk pilih YY.
Bapak A : gimana sih, kan kamu udah saya jadiin saksi XX dan udah dibayar 200 ribu barusan.
Saksi XX : Abis Bapak, bilangnya kan saya suruh jadi saksi XX doang, bukan suruh nyontreng XX, ngga salah dong. http://www.alifiarahmany.blogspot.com/ : )
Baca Selanjutnya...

Wednesday, June 17, 2009

BERKAS CAHAYA DI PONCOKUSUMO

Mungkin tidak semua orang tahu daerah Poncokusumo, sebuah kecamatan yang terletak 32 kilometer arah barat laut Kota Malang, wilayah pegunungan berhawa sejuk yang terkenal dengan buah Apel berwarna hijau, didaerah ini kisah pesona wisata ruhiah ini bermula, kami sengaja ingin mengunjungi salah satu family kami disini, beliau pengasuh pondok pesantren yang berlokasi di desa Wonomulyo, Pesantren Al Mubarok Raudlotul Nur Ihsan namanya, tidak besar memang, tapi cukup untuk menampung lebih dari seratus santri disana.

Kunjungan kali ini bukanlah kali pertama, tapi khusus hari itu kami berencana bermalam disana, sebab kunjungan perdana tahun lalu menyisakan banyak sekali pertanyaan, kekaguman dan rindu berat disana.
Tidak salah jika kami terpesona oleh keindahan alam dan panorama ruhiah disana, bagaimana tidak, dari jendela ruang tamu terlihat indahnya pegunungan berselimut kabut dan berurai hangatnya sinar matahari pagi, sedangkan telinga kami dimanjakan dengan suara shalawat, dzikir dan suara tilawah dari para santri disana, ditambah lagi merdunya kicau burung, suara ngengat dan gemercik air sungai disamping pesantren seakan menyatu dalam harmonisasi dalam bertasbih.

Siapa yang menyangka jika dari daerah yang sekilas tampak terisolir dari ganasnya globalisasi teknologi ini, mampu mengetahui informasi update dunia islam, ini terbukti dari nyambungnya diskusi ketika kami membuka obrolan mengenai dunia islam terkini, seperti masalah palestine, perkembangan harakah di Indonesia serta maraknya diskusi orientalis dan manuver para tokohnya pun mereka mengetahui secara mendalam.

Informasi menarik yang kami gali dari hasil obrolan kami saat itu, diketahui bahwa seluruh santri yang sebagian besar berasal dari jawa timur ini tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis, Biaya operasional pesantren ini didanai oleh wirausaha para pengurus dan santri disana, mereka dibebaskan untuk mencari rizky apapun yang penting halal.

Adapun jenis usaha yang pernah dan sebagian masih dijalani disana adalah mulai dari peternakan burung walet, ikan, burung kenari, tanaman hias hingga berkebun juga dijalani guna operasional sehari-hari seperti makan, minum, memasak, alat tulis dan buku-buku.

Gerbang utama dan sebagian besar ruang kelas pesantren berdinding bambu dan beratap genteng merah, sedangkan halaman kelas dan masjid berhias tanaman hias layaknya vila di puncak.


Pada awal pendiriannya pimpinan pondok menuturkan bahwa begitu sulitnya merintis sebuah pesantren, mulai dari penolakan secara halus, intimidasi hingga ancaman pembunuhan kerapkali diterimanya, sebab memang wajar jika saat itu penduduk yang mayoritas pendidikan agamanya minim, sulit menerima seorang pendatang yang kebetulan menikah dengan penduduk disana mencoba mengajarkan materi Islam yang boleh dibilang baru bagi mereka.

Alhamdulilah saat ini semua masyarakat bisa menerima pesantren itu, bahkan ketika pembangunan masjid dilakukan semua masyarakat membantu membangun masjid tersebut tanpa dipungut biaya tenaganya, selain karena anak mereka ikut belajar dengan gratis disana, mereka juga mendapatkan pencerahan agama islam secara mendalam disana.

Saat ini mereka sangat menghormati pesantren ini, hal ini bisa dilihat ketika mereka bersepeda motor dan melewati gerbang, mereka turun, menuntun dan mematikan mesin sepeda motor itu terlebih dahulu, baru setelah agak jauh mereka menyalakan kembali.

Ada kejadian yang membuat kami tersenyum haru, saat itu ketika kami ingin parkir mobil saat baru tiba pukul 9 malam, kami kesulitan untuk mencari tempat parkir, sang ustadz menyarankan untuk parkir di salah satu rumah penduduk terdekat dengan pesantren, sang pemilik rumah dengan ramah mempersilahkan kami untuk parkir disamping rumahnya, awalnya kami ragu untuk melakukannya sebab jalan sekitar halaman gelap dan sempit, benar saja, baru setengah body mobil yang masuk, kami kesulitan untuk memasukkan ekor mobil, tikungan masuk ke dalam halaman samping rumah ini terlalu pas-pasan, maju-mundur mobil membuat gaduh dan sempat panik karena ngga enak dilihat oleh penduduk yang ada disana, akhirnya entah siapa yang memberikan komando, salah seorang penduduk menghampiri supir kami dan minta untuk mematikan mesin mobil, awalnya kami bingung, loh kok posisinya belok dan menutupi jalan sudah disuruh turun, akhirnya kami tahu bahwa penduduk sekitar ingin menggeser mobil kami supaya lurus dengan mengangkat mobil kami beramai-ramai, dan luar biasa dengan kompak mereka yang berjumlah lebih dari lima orang mampu meluruskan posisi mobil kami menjadi lurus dan tidak menutupi jalan.

Yang ingin kami katakan disini bukanlah unsur magis dalam memindahkan mobil tadi, namun rasa hormat dan ingin membantu yang ingin mereka tunjukkan terhadap kami yang nota bene adalah tamu sang ustadz, mereka ingin memberikan yang terbaik yang mereka miliki, meskipun hanya dengan kekompakkan sisa tenaga dimalam hari.

Diakhir pertemuan, kami dapat informasi bahwa saat ini santrinya tidak hanya berasal dari pulau jawa, tapi sudah ada beberapa santri yang berasal dari luar pulau jawa, diantara lulusannya pun sekarang sudah ada yang mengajar dan merintis pesantren lagi ditempat lain.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(an-nuur : 35) - http://www.alifiarahmany.blogspot.com/

Baca Selanjutnya...

Monday, May 18, 2009

Cinta Hitam Putih


Assalamualaikum, Mas

Waalaikum salam, eh Mas Fauzi…gimana kabarnya nih?

Alhamdulillah baik, nanti siang ada acara nda?

Emmm keliatannya ngga ada mas, emang kenapa?

Gini...mas, tanggal 9 April kan tinggal dua minggu lagi, nah saya dapet informasi dari temen saya kalo Mas Rachmat ini kader juga, jadi saya ada rencana untuk ngumpulin seluruh kader di RW kita, supaya saling kenal dan bisa koordinasi satu sama lainnya.

Insya Allah mas, saya setuju, soalnya selama satu tahun ini terus terang saya ngga tau nih kader di sini siapa-siapa aja sih, mm dimana acaranya, mas?

Dirumah saya, ba’da zuhur

Maaf mas Fauzi, alamatnya dimana ya?

Depan rumah pak RW….tau kan?

Oh iya....

Ya udah, sampai ketemu nanti ya, Assalamualaikum?

Waalaikum salam....

Mas Fauzi meninggalkan diriku, sesaat setelah menjabat tanganku, pria yang baru saja kukenal sejak setahun ini memang baru berbicara banyak denganku tadi, biasanya memang hanya sekedar menyapa salam saja.
Kurang dari 24 bulan aku baru tinggal di kota Bogor ini. Aku, kakak, keponakan dan kedua orangtuaku berasal dari Sukabumi, kami pindah dalam rangka mengikuti Ayahku yang ditugaskan di kota hujan ini, Aku sendiri sudah lama pulang pergi sukabumi – bogor, sebab aku bekerja di salah satu perusahaan teknologi dan internet di Bogor.

Sejak masih di Sukabumi memang aku sudah aktif dalam kepartaian, tepatnya sejak masih duduk dibangku kuliah.

Saat masih di Sukabumi, aku sempat bertunangan dengan seorang gadis tetanggaku sendiri, meskipun aku sangat mendambakan istri yang punya aktifitas ke partaian yang sama denganku, namun tampaknya keadaan berbicara lain, saat itu aku yang berusia hampir kepala tiga, dengan segera mengiyakan sesaat setelah orang tuaku menjodohkan aku dengan tetanggaku itu.

Cantik, sopan, smart dan solehah begitulah kira-kira gambaran calon istriku, meskipun ia dari keluarga muslim tradisional dan aku sempat khawatir akan perbedaan ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, saat ini aku mulai mencintainya.

Kami sepakat akan melangsungkan pernikahan pada bulan Juli nanti, tepatnya seminggu setelah pilpres nanti,

Sebelum bertunangan, kami memang sudah saling mengenal satu sama lain, namun karena kesibukan serta lokasi aktifitas menyebabkan kami tidak pernah mengenal lebih dalam, saat ini ia sedang meneruskan S2 nya di Malaysia, sementara aku sendiri pulang pergi Sukabumi – Bogor.

----------------

”Assalamualaikum, ”

”Waalaikumsalam, eh Mas Rachmat...ayo,,ayo masuk.”

Ternyata aku bukanlah orang pertama yang datang, didalam sudah ada lima orang termasuk Mas Fauzi didalamnya, mereka dengan ramah memperkenalkan dirinya satu persatu, dimulai dari Pak Toto, bapak dengan lima orang anak ini aku perkirakan berusia 40 tahunan, ia paling senior diantara kami, selanjutnya disusul Mas Hermanto, pria berjenggot tipis asal cilacap ini mengaku sebagai orang baru juga di RW sini.

Setelah para pria memperkenalkan diri, kini giliran wanitanya, meskipun tempat duduk dua orang wanita ini hanya berjarak dua meter, namun aku tidak bisa melihat wajah mereka, sebab tempat duduk kami dibatasi oleh white board.

Diantara kedua wanita tadi, salah satunya adalah istri dari Mas Fauzi, sedangkan yang satunya lagi Mbak Ratih namanya, ia menceritakan sedikit aktifitasnya sehari-hari, ia seorang guru SMP bidang matematika dan mengajar TPA juga dilingkungan komplek ini,

Tanpa sadar aku teringat akan cerita keponakanku, ia mengatakan bahwa saat ini ia sedang senang mengaji dengan guru TPA-nya yang baru, namanya Bu Ratih, ia baik dan sering mengantarkan keponakanku itu sampai ke rumah,

”jangan-jangan Mba Ratih ini adalah Bu Ratih yang diceritakan Dina keponakanku”
Pikirku dalam hati

-------

Setelah semua agenda pertemuan dilalui, satu persatu mereka meninggalkan diriku, aku memilih pulang belakangan, selain ingin membantu membereskan rumah Mas Fauzi, aku juga harus membereskan notulensi dan kesimpulan rapat tadi, rupanya Mba Ratih juga belum pulang, sebab ia juga sedang sibuk membantu istri Mas Fauzi dan membereskan administrasi biodata kader di RW ini.

”Mas Rahmat tinggalnya di Jalan Jeruk nomor 2, emang Mas Rahmat siapanya Dina?” tanya Mba Ratih dari balik white board

”Saya Om-nya Mba” jawabku singkat,

”Mba Ratih, guru TPA-nya Dina ya?” kini aku yang angkat bicara, sambil melepas seluruh kabel yang tersambung di Laptop

”Iya mas, Kok Mas Rahmat tau, dari Dina ya?”

”Iya, sudah lama Mba tinggal disini?

”Aku lahir disini, Mas Rahmat kerja dimana?”

Tak terasa kami ngobrol panjang lebar, mulai dari kegiatan sehari-hari, sekolah, pekerjaan hingga cerita mengenai keluarga kami masing-masing.

Waktu sudah mendekati ashar, aku berpamitan kepada tuan rumah dan Mba Ratih, tanpa sadar aku melihat wajah Mba Ratih keluar dari balik white board, rupanya ia juga sudah selesai dan mencoba melihat wajahku.

Lima detik aku memandang wajahnya, segera aku coba alihkan pandangan ini, mengucapkan salam dan segera bergegas meninggal kan rumah Mas Fauzi.

Selama perjalanan pulang, aku bergumam dalam hati, rupanya Ratih masih muda, kira-kira dua tahun dibawahku, aku sempat khawatir dengan yang barusan terjadi, kenapa hati ini begitu bergetar saat melihat Ratih tadi, ada rasa sesal dalam diri ini, kenapa baru sekarang mengenal dirinya, wanita yang selama ini aku idam-idamkan, kini hadir setelah aku bertunangan.

Astaghfirullah...kenapa pikiranku jadi ngaco gini ya, lagian jangan geer dulu, emangnya si Ratih ini suka ama aku juga...ya belum tentu juga kali...

Begitulah kata hatiku saling bersahutan.
-------

Setelah makan malam, aku mendengar ada bunyi SMS dari HP ku

”Ass..Maaf Mas Rahmat...ijin nyatet nomor HP-nya ya, agar koordinasi kita lancar (Ratih)” begitu isi SMS,

”wlkmslm..ga papa, ini nomornya Mba Ratih ya?”

”Iya mas”

Aku tidak ingin mencoba menyambung SMS ini, aku takut ke ge-er anku kembali datang,

”repot nanti” pikirku dalam hati

Dalam hati aku kembali mengulang angan-angan tadi siang

”Akhirnya aku menemukan wanita yang selama ini aku idam-idamkan, tapi kenapa ya aku dipertemukan disaat yang tidak tepat, aku sudah mencintai calon istriku, dan aku sudah terlanjur melamarnya”

------
Jam 3 pagi, aku dikejutkan dengan dering HP, dengan nada miscall dan berakhir pada bunyi SMS.

”Ass Para kader sekalian, dimohon agar bisa meluangkan waktu, tahajud dan mendoakan perjuangan kita (Ratih)”

”Makasih Mba udah bangunin aku”

”Sama-sama”

Mudah-mudahan bukan cuman aku yang dibangunin sama Ratih, begitu pikirku saat membaca SMS terakhir tadi

------

Hampir setiap hari aku mendapat kiriman SMS dari Ratih, aku tidak berani menanyakan hal ini kepada kader lain, dan aku juga tidak berani pula mereply SMS dengan kata-kata yang lain selain : ”Terima kasih ya mbak, sudah dibangunin”

Hari pencontrengan tiba, Aku kebagian tugas di TPS 100, lokasinya di lapangan bulutangkis, rupanya rumah Ratih berada disekitar itu, saat zuhur ia mengingatkanku untuk beristirahat, aku dibawakan makan siang olehnya dan ia pun rela menggantikanku saat aku izin shalat zuhur sebentar.

Aku semakin yakin, apa yang aku takutkan akan terjadi, perhatian Ratih selama ini punya arti tersendiri, aku tak dapat membohongi perasaanku juga, aku menikmati perhatiannya, aku membalas perhatiannya, dan hari itu aku benar-benar dibuat jatuh cinta padanya.

Ia tidak tahu bahwa aku sudah bertunangan dan aku juga tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya

Panasnya matahari dan rasa jenuh dari lalulalang para pemilih seolah tidak terasa, selama dia menjenguk dan memberikan perhatiannya kepadaku di TPS ini, tidak ada pernyataan atau kata-kata resmi yang keluar dari mulut kami mengenai cinta ini, namun kami berdua bisa merasakan getaran ini.

Hari yang indah ini hampir selesai, tepat jam 8 malam Ratih menanyakan rekapitulasi suara partai kami untuk dilaporkan ke koordinator wilayah saksi, aku tidak dapat berbohong, aku senang ia datang lagi, meskipun galau hati ini, aku sangat bahagia bisa ngobrol lagi dengannya.

Meskipun dalam pembicaraannya, Ratih seringkali memancing pembicaraan ke arah serius, namun aku pura-pura polos menghindarinya, aku bingung, sebab aku juga ingin berbicara serius mengenai hubungan ini, tapi bagaimana mungkin?.
-------

Malam ini perasaanku sangat kacau, bathinku bertempur hebat, siapa yang aku pilih, ya Allah apakah Ratih sebagai cobaan bagi pernikahanku ataukah ia yang akan menyelamatkanku dari keputusan yang terburu-buru saat itu.

Aku terus berfikir mengenai kedua wanita ini, apakah aku berani membatalkan pernikahan ini, bagaimana perasaannya, keluarganya dan bagaimana reaksi orang tuaku nanti, sementara persiapan pernikahan sudah 50% jalan, undangan sudah dipesan, tenda sudah dibooking dan kepanitiaan di Sukabumi sudah dibentuk.

Disatu sisi, perhatian Ratih yang baru aku terima tadi siang menggoreskan kesan yang dalam dihati ini, aku pun mengingat-ingat kejadian masa laluku,

Sebelum dengan calon istriku, aku pernah beberapa kali gagal dalam mencari pasangan hidup, pernah aku suka dengan wanita tapi ia tidak suka, aku bilang mungkin ini bukan jodohku, lalu ada lagi wanita yang menyukaiku tapi giliran akunya yang tidak suka dengannya, akupun bilang mungkin aku bukan jodohnya.

Dengan keterbatasanku yang bukan ahli bercinta, aku pernah berfikir bahwa yang namanya jodoh adalah jika pria dan wanita saling jatuh cinta, ternyata aku salah, sekarang aku menyukai Ratih dan begitupula dengannya, tapi karena waktu yang tidak tepat, aku jadi bertanya-tanya lagi, siapa jodohku? Ratihkah atau calon istriku?

Tut..tut..tut,
Bunyi SMS membuyarkan lamunanku, segera kubaca
”Aslm Mas Rahmat, di Bogor siapa yang menang, kalau di Malaysia rata-rata Partainya Mas Rahmat loh yang menang, gimana persipan pernikahan kita?”

Degh...jantung ini bedegup kencang, gemetar jari ini menulis SMS balasan

”WlkmSlm, Alhamdulilah disini nomor dua, persiapan nikah udah 50%, kapan kamu pulang”

Masih deg-degan, aku menunggu balasan SMS tadi.

Drrdd...kali ini nada SMS aku ubah jadi getar, agar tidak mengganggu Dina yang sedang belajar

”Asslm, Mas Rahmat lagi ngapain, sejak pertama aku ketemu Mas sampai siang tadi, aku menyimpulkan kalau aku boleh bicara dan kenal lebih dekat dengan Mas Rahmat, bagaimana dengan Mas Rahmat?”

Lebih hebat lagi, jantung ini dibuat bergetar setelah membaca SMS dari Ratih, aku sangat paham dengan maksud kata-kata ”Boleh bicara dan kenal lebih dekat”

--------
Tiga tahun kemudian

”Nanti setelah kondangan, kita mampir ke rumah orang tuaku kan?”

”Ya iyalah Pak, ngga enak udah sebulan kita nggak kesini, yang mana rumahnya?

”Itu dia tendanya,...Eit Dafa, nanti makan es krimnya jangan banyak-banyak ya, masih batuk kan?”

Aku menggandeng istri dan anakku, berjalan menuju tenda pelaminan, disana sudah berdiri sepasang pengantin, aku menyalami satu persatu, dan berjalan melambat ketika tiba didepan mempelai wanita

”Selamat ya Mba Ratih, semoga bahagia selamanya, kenalin ini istri dan anakku”.

Cerita ini adalah fiksi : jika ada kesamaan nama, hanyalah sebuah kebetulan saja http://www.alifiarahmany.blogspot.com/
Baca Selanjutnya...

Monday, January 19, 2009

Nyawaku Diselamatkan Oleh Kesialan

Aku membiarkan setengah tubuhku berada diluar batas pintu KRL (Kereta Rangkaian Listrik) Jabotabek, kedua tanganku berpegangan pada besi pegangan pintu sementara salah satu kakiku di batas pintu kereta dan kaki lainnya menempel di stasiun Depok Lama, angin berhembus mengusir keringat dan sedikit menyegarkan tubuhku.

“lumayan pikirku, daripada didalam kereta, lagi pula hanya satu stasiun lagi perjalananku akan berakhir, nanti akan sulit turunnya jika aku masih didalam”

Saat itu rasanya ingin sekali bisa segera tiba di rumah, setelah semalaman aku begadang sibuk membantu pesta pernikahan kakak pertamaku di daerah Pasar Minggu.

Sepuluh menit sudah kereta ini berhenti, tapi kereta ini belum ada tanda-tanda akan bergerak, bahkan pengumuman yang biasa keluar dari TOA diatas langit-langit stasiun pun belum meneriakan kereta akan meneruskan perjalanannya.

Untuk mengusir rasa jenuh aku iseng menanyakan hal ini kepada salah seorang penumpang lain didepanku, menurutnya kejadian seperti ini sudah biasa terjadi di stasiun Depok lama, setiap KRL yang berhenti disini harus antre menunggu giliran untuk meneruskan perjalanannya sepuluh hingga lima belas menit, sebab di stasiun ini memiliki rel yang berfungsi sebagai perpindahan dua arah (waktu itu).

Sedikit terhibur rasanya mendengar penuturan pria ramah dengan jaket biru seumuran ayahku tadi, rupanya kereta ini tidak mengalami gangguan seperti cerita-cerita yang pernah ku dengar.

Sambil menghela nafas aku mulai melihat-lihat situasi para pencari rizky di stasiun Depok lama ini, kali ini mataku berhenti tertuju kepada penjual lontong dan aneka gorengan disana.

Terjadi perdebatan dalam batinku, antara menuruti rasa lapar yang sebenarnya bisa ditahan dengan keinginan ingin segera tiba dirumah.

“Ayolah perut, paling sebentar lagi sudah sampai dirumah, kata Bapak tadi aja bilang paling lama lima belas menit kereta menunggu, jadi sebentar lagi kita sudah tiba dirumah kok…tahan ya”

Sebenarnya aku sangat setuju apa yang disampaikan oleh batinku ini, tapi entah kenapa rasa lapar ini tiba-tiba saja, menjadi semakin menjadi-jadi ditambah lagi dengan banyaknya orang yang makan di tempat itu, sehingga rasa lapar ini memenangkan perdebatan dalam batin ini.

Tanpa pikir panjang lagi aku menginjakkan kedua kakiku di stasiun ini dan bergegas melangkah menuju tukang lontong tadi sambil berharap kereta ini masih lama menunggu dan aku tidak tertinggal disini.

“Mudah-mudahan nggak ketinggalan” gumamku dalam hati

Setelah duduk dan membuka kulit lontong, aku pun terkejut, rupanya kereta tadi jalan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, aku yang sedang dalam posisi suapan pertama dan juga belum membayar, tak mungkin mengejar kereta itu.

Dengan wajah tanpa daya aku biarkan kereta berlalu dari hadapanku, menyesal rasanya ketika tertinggal kereta, kali ini aku sangat marah sama perutku sendiri, harusnya aku bisa menahan rasa lapar ini, hanya karena lontong ini aku jadi tertinggal kereta dan tidak bisa segera makan dan istirahat dirumahku sendiri.

“Siaaaalan” teriak hatiku sejadi-jadinya.

Masih dalam suasana menyesal, aku membuang kulit pembungkus lontong dan tanganku merogoh kantong untuk mengambil uang receh, setelah itu segera kuserahkan uang tersebut kepada penjual lontong dan berharap kereta selanjutnya akan tiba dan aku tidak ketinggalan lagi.

Sesaat setelah itu, aku dikejutkan oleh suara dentuman yang amat keras dan mengagetkan semua orang yang berada disana, bunyinya seperti suara dua buah benda besar bertabrakan.

Seseorang dengan berteriak dan berlari dari arah stasiun memberikan kabar yang membuat dengkul ini menjadi lemas, yakni telah terjadi tabrakan dua buah kereta diperlintasan rel wilayah ratujaya (rel jalan antara stasiun Depok lama dan stasiun Citayam).

Akupun melakukan sujud syukur dan meminta maaf serta menyesal karena telah memberikan fatwa sial kepada rasa lapar ini.

Terima kasih ya Allah engkau telah memberikan rasa lapar ini kepada hambamu ini dan sekarang rasa lapar ini telah menyelamatkan diriku.

Cerita ini diangkat dari kisah yang dialami oleh sahabat Livi Family yang bernama Atman warga Citayam pada tahun 1993, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua bahwa :

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Qs : Al Baqarah-216)

www.alifiarahmany.blogspot.com

Baca Selanjutnya...